Tampilkan postingan dengan label waste to energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waste to energy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2015

Mengakselerasi Pemanfaatan Sumber Energi Biogas di Indonesia

Limbah-limbah organik yang mudah membusuk menjadi pilihan utama produksi biogas saat ini. Dan lebih khusus lagi kotoran binatang dan limbah cair dari agroindustri menjadi prioritas. Peternakan sapi dengan sistem kandang dan pabrik kelapa sawit atau CPO (Crude Palm Oil) adalah dua sumber terbesar produksi biogas saat ini. Walaupun rute thermal seperti proses pembakaran, pirolisis atau gasifikasi tetapi rute biologi (bio-process) melalui fermentasi walaupun lebih lama menjadi pilihan utama pada limbah-limbah organik yang mudah membusuk tersebut. Potensi Indonesia cukup besar untuk biogas ini khususnya limbah cair pabrik sawit atau CPO, karena Indonesia adalah produsen CPO terbesar di dunia dengan luas kebun sawitnya lebih dari 7 juta hektar dengan jumlah pabrik lebih dari 400 buah dan setelah mengungguli Malaysia.




Sedangkan dilain sisi kebutuhan listrik juga besar apalagi masih puluhan juta penduduk yang belum  bisa teraliri atau menikmati listrik untuk membantu kehidupan mereka terutama yang berada didaerah-daerah terpencil. Masalah seperti lokasi yang berjauhan dengan pengguna atau pasar untuk  listrik tersebut sehingga butuh biaya mahal karena harus membuat jaringan listrik sendiri (off-grid) untuk menjangkaunya, alat konversi biogas ke listrik yang masih mahal, harga jual listrik yang dianggap belum menarik, regulasi pemerintah tentang kebijakan energi yang belum menempatkan energi terbarukan sebagai prioritas sehingga kurang dorongan, dan sebagainya menjadikan masalah penerapan biogas di lapangan menjadi sulit sehingga kurang berkembang. Penyedia listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) masih melihat banyak tantangan untuk mengusahakannya.

Proses produksi biogas mudah dan mendukung program lingkungan berupa menghindari gas CH4 atau  methana (methane avoidance) yang terbentuk ketika fermentasi di alam . Gas metana juga memiliki potensi dampak lingkungan lebih besar dibandingkan dengan gas karbondioksida (CO2). Skala produksi biogas juga dilakukan pada skala kecil dan ini sudah banyak dibuat dibanyak tempat.  Walaupun karakteristik implementasi unit biogas skala kecil berbeda dengan skala besar, bukan berarti bahwa implementasi unit biogas skala kecil tidak menemui sejumlah rintangan yang berarti di lapangan.

Produksi biogas pada skala kecil umumnya memanfaatkan biogas yang dihasilkan sebagai bahan bakar sumber panas atau lampu penerangan berbahan bakar gas tersebut seperti petromax yang dulu banyak digunakan. Sumber bahan baku biogas itulah salah satu faktor utama yang membuat unit biogas tetap beroperasi, selain faktor-faktor lainnya tentunya. Sebuah pola integrasi antara perkebunan dan peternakan adalah salah satu cara supaya pasokan bahan baku biogas bisa berkesinambungan baik skala kecil maupun besar, sebagai contoh pada skala medium-besar pada pola integrasi kebun energi untuk produksi wood pellet dan peternakan sapi untuk produksi biogas.  Perbandingan harga dengan bahan bakar lainnya yang tersedia dipasaran adalah faktor lain untuk implementasi unit biogas pada skala kecil karena penggunaannya sama-sama untuk bahan bakar.  Dibandingkan dengan LPG, biogas memiliki kalor lebih rendah, pengotornya lebih banyak dan baunya juga terasa sedikit busuk terutama pada saat awal pembakaran yang kemudian perlahan mulai hilang.



Teknologi biogas sudah masuk ke Indonesia sekitar 25 tahun yang lalu tetapi implementasinya belum berkembang baik. Ketika telah masuk era produksi bahan kimia dari biomasa maka teknologi biogas besar kemungkinan akan mendapat perhatian besar termasuk implementasinya karena kemampuan teknologi ini menghasilkan gas metana.Percobaan atau penelitian ilmiah skala laboratorium bisa dilakukan untuk mengetahui proses biogas skala kecil dan pengamatan yang lebih detail termasuk percobaan dengan berbagai bahan baku limbah organik dan karakteristiknya. Setelah diketahui karakteristik proses dan biogas yang dihasilkan maka perbesaran kapasitas (scale up)  menjadi lebih mudah dan akurat. Unit biogas skala laboratorium selain untuk penelitian baik fundamental maupun untuk keperluan scale up juga bisa digunakan untuk training bagi para operator yang akan mengoperasikan unit biogas atau siapa saja yang tertarik dengan biogas tersebut.

Rabu, 18 Desember 2013

Mengapa Masih Menggunakan Incenerator untuk Sampah Kota?

Jatuh pada lubang yang sama dua kali adalah suatu kebodohan. Walaupun kelihatan sederhana membakar sampah untuk mengatasi masalah sampah kota  dengan incinerator tetapi pada prakteknya malah banyak menimbulkan masalah lingkungan. Karena kondisi operasinya hanya berkisar 600-800 C, maka akan dihasilkan gas dioksin yang sangat beracun.  Sedangkan apabila ‘ngotot’ dioperasikan, maka treatment pada gas buang akan menjadi wajib diupayakan. Pada kenyataanya saat hampir semua incinerator di sejumlah pengolahan sampah kota tidak dioperasikan akibat  buruknya dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Paradigma saat ini bahwa pengolahan sampah kota harus menguntungkan harus direvisi. Komposisi sampah kota yang sangat kompleks, sehingga menyulitkan untuk pengolahan selanjutnya. Pemilahan adalah hal wajib dilakukan jika ingin membuat produk bernilai jual dan ini jelas tidak sederhana.  Produk kompos maupun biogas dan pupuk cair tentu tidak mampu meng-cover cost produksi pembuatannya. Sehingga paradigma penanganan sampah kota yang relevan saat ini adalah problem solving yakni mengatasi masalah sampah itu sendiri, karena apabila tidak diselesaiakan akan menimbulkan dampak lingkungan yang lebih besar dan akibatnya akan semakin tinggi biaya yang dikeluarkan.
Idealnya sampah telah dipilah sewaktu membuangnya di tempat sampah sebelum diangkut dibawa ke tempat pembuangan akhir sehingga memudahkan untuk proses pengolahannya. Tetapi hal tersebut sulit dilakukan. Perlu edukasi sangat lama untuk mewujudkannya, prakteknya dibutuhkan umumnya akan lebih dari 20 tahun. Sehingga kompromi sesuai cara diatas perlu dilakukan untuk mengatasi masalah sampah hari ini.
Penentuan tipping fee yang dibayarkan pemda ke pengelola sampah  haruslah wajar sehingga akan banyak pihak pengolah sampah kota yang berminat. Pengolahan sampah yang efektif dan efisien akan meminimalisir dampak lingkungan dan memberi manfaat untuk pertanian dan energi. Solusi yang tidak muluk-muluk tetapi applicable itulah yang dicari saat ini.