Senin, 08 Januari 2018

Import Garam, Kok Bisa?

Tabel Komposisi Air Laut Menurut Rilley dan Skirrow
Air di bumi sangat banyak, diperkirakan berjumlah 1.360 juta km3. Sedangkan pembagiannya 97,2% adalah air asin di lautan dan samudera, dan hanya 2,8% adalah air tawar yang terbagi menjadi tiga bentuk (padat, cair dan gas). Air asin itulah sumber bahan baku produksi garam. Air asin dari laut dan danau asin sebagai bahan baku produksi garam seluruh dunia dengan prosentase mencapai 40%,  selanjutnya tambang garam juga mencapai porsi 40%, dan sisanya dari air asin dalam tanah. Indonesia adalah negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, sehingga akses untuk mendapatkan air asin untuk produksi garam sangat mudah dan berlimpah. Seharusnya untuk memproduksi garam juga tidak ada masalah, sehingga cukup bahkan berlimpah sehingga bisa dijual ke negara-negara lain yang membutuhkan. Tetapi faktanya Indonesia malah import garam besar-besaran dari negara lain yang rata-rata 2 juta ton pertahun dengan sebagian besar dari Australia. 
Ternyata produksi garam Indonesia hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan untuk garam konsumsi, sedangkan untuk kebutuhan garam industri kebutuhannya masih belum tercukupi, sehingga import yang sangat banyak tersebut. Ada 2 hal permasalahan mendasar pada produksi garam Indonesia, yakni kualitas dan kuantitas. Dari sisi kualitas ternyata untuk mendapatkan kualitas yang standar dan stabil sehingga bisa diterima oleh industri masih kesulitan. Industri mensyaratkan tingkat kemurnian garam tertentu misalnya NaCl minimum 95%  dan juga kandungan sejumlah mineral dengan kadar tertentu. Sedangkan dari sisi kuantitas atau produktivitas garam per hektarnya, di Indonesia berada dikisaran rata-rata 60 ton/hektar, sedangkan di Australia bisa mencapai 350 ton/hektar. Indonesia juga hanya menempati peringkat 36 dalam kapasitas produksi garam. Di titik inilah faktor teknologi produksi yang efektif dan efisien untuk produksi garam tersebut.



"(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama berat/ukuran dan harus dari tangan ke tangan (tunai). Jika jenisnya tidak sama, maka jual beli-lah sesuka kalian asalkan dari tangan ke tangan (tunai)". (HR. Bukhari)

Dari hadist diatas mengindikasikan bahwa garam adalah barang kebutuhan manusia yang akan terus ada sampai hari kiamat. Sehingga produksi garam juga harus terus diusahakan hingga hari kiamat. Selain itu garam juga memiliki kedudukan yang penting, karena disampaikan berurutan dalam hadist diatas. Kaidahnya bila sesuatu disebut berurutan di dalam Al Qur'an atau Hadist yang sahih, maka ada tingkat kepentingan yang relatif sama satu sama lain, atau yang disebut lebih sebagian yang dipentingkan. Artinya juga garam ini nyaris sepenting emas dan perak yang merepresentasikan uang, bahkan garam bisa benar-benar digunakan sebagai alat tukar sebagaimana hadist di atas.

Sementara untuk garam konsumsi semua orang sudah mengetahui penggunanaannya, ternyata penggunaan garam juga sangat luas dan sangat penting bagi sejumlah industri. Hal ini juga semakin membuktikan akan kebenaran hadist Nabi SAW di atas. Sejumlah industri yang membutuhkan garam berikut kadar NaCl minimal telah ditampilkan dalam skema diatas. Ternyata sebagian besar industri pengguna garam di atas adalah industri hulu, artinya produk-produk industri hulu tersebut adalah bahan baku dari industri-industri hilir, misalnya NaOH dibutuhkan untuk produksi sabun dan sebagainya, bahkan lebih dari 50% industri kimia menggunakan garam dalam proses produksinya. Dari sini saja sudah semakin terlihat betapa pentingnya garam tersebut.

Apa saja industri hilir yang menggunakan bahan baku produk industri hulu yang diproduksi dengan menggunakan garam tersebut? Chlor alkali plant atau pabrik soda api (caustic soda) yang menghasilkan NaOH selanjutnya menjadi bahan baku pada industri kertas, industri PVC, sabun (deterjen) dan tekstil. Caustic soda juga digunakan sebagai bahan baku untuk produk seperti plastik, lem, tinta, coating dan pelarut. Kemudian pada pabrik soda abu atau pabrik natrium karbonat yang menghasilkan Na2CO3 penggunaannya untuk industri kaca, kertas, pelarut dan sebagainya. Hampir 75% dari garam industri dikonsumsi oleh industri kimia (NaCl minimal 96%), sehingga bisa dikatakan industri kimia mendominasi kebutuhan garam industri, kemudian diikuti industri aneka pangan, industri perminyakan, penyamakan kulit, pakan ternak/ikan,  water treatment, es batu dan industri farmasi.
Prosentase Penyerapan Garam
Apabila lebih diperinci kebutuhan garam untuk berbagai sektor industri tersebut, maka daftarnya bisa sangat panjang. Sebagai gambaran beberapa diantaranya yakni, pada industri pangan, garam dibutuhkan pada industri mie, bum bumbu masak, biskuit, minuman, gula, kecap, mentega, aneka makanan ringan dan pengalengan ikan. Pada bidang farmasi garam digunakan sebagai bahan baku infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirup, oralit, cairan pencuci darah, minuman kesehatan dan lain-lain. Garam digunakan juga di industri penyamakan kulit, industri perminyakan dan industri water treatment. Garam sebagai komoditas pokok yang dibutuhkan baik oleh masyarakat dan industri, karena perannya begitu penting bahkan semasa Raffles berkuasa, pada 1813 maka dibuat aturan monopoli garam oleh pemerintah yang menyangkut produksi dan distribusinya.
Kebutuhan akan garam industri meningkat tajam setiap tahun dibandingkan garam konsumsi, yakni rata-rata berkisar 7% untuk garam industri tetapi hanya 0,4% untuk garam konsumsi. Kementrian Perindustrian memproyeksikan kebutuhan garam untuk industri akan terus meningkat sekitar 50.000 ton per tahun. Tingginya kebutuhan garam tersebut terutama oleh pesatnya pertumbuhan industri pangan. Semakin besar kebutuhan sementara pasokan atau produksi dalam negeri tidak mencukupi maka importlah pilihannya. Dan hal tersebut berarti semakin menambah ketergantungan import, yang seharusnya kita hindari. Bagi siapa saja yang tertarik untuk memberi solusi masalah garam ini, silahkan berdiskusi lebih lanjut dengan menulis email di eko.sbs@gmail.com

Senin, 01 Januari 2018

Minyak Bunga Mawar Akan Semakin Wangi Semerbak


"Maka apabila langit telah terbelah, dan menjadi merah mawar seperti (berkilapan) minyak." – (QS.55:37)

Selain disebut dalam Al Qur'an, wewangian dari mawar juga termasuk salah satu yang digunakan Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi Wassalam. 

Indonesia terkenal dengan produsen berbagai minyak atsiri, diantaranya minyak nilam, minyak kayu putih, minyak daun cengkeh dan lain sebagainya. Penggunaan utama minyak atsiri terutama untuk bidang pangan, farmasi, wewangian (parfum). Potensi negeri ini untuk mengembangkan minyak atsiri sangat besar karena faktor iklim, luas lahan dan kesuburan tanahnya. Minyak atsiri bunga mawar adalah salah satu potensi yang menarik untuk dikembangkan karena harga jual minyak mawar yang menarik atau salah satu minyak atsiri termahal, produsen belum banyak dan pohon bunga mawar bisa tumbuh baik di Indonesia. Pohon ini bisa tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi yakni sekitar 1500 m dari permukaan laut. 

Harga minyak bunga mawar (rose oil) kurang lebih 50 juta rupiah per kg dan untuk menghasilkan 1 kg minyak mawar dibutuhkan 4 ton bunga mawar. Bila bibitnya benar dan ditanam secara intensive maka per hektar per tahun lahan bisa menghasilkan 75 ton bunga mawar. Apabila dikonversi ke jumlah minyak dihasilkan per hektar per tahun maka hasilnya 18,75 kg atau sekitar 937,5 juta rupiah. Sangat tinggi nilainya dan sangat menarik tentunya dari sisi ekonomi. 

Ketika pertanian intensif dijalankan dengan harapan keuntungan yang sangat tinggi tersebut, maka faktor budidayanya tentu juga membutuhkan upaya ekstra untuk mencapai target produksi tersebut. Biochar dan IOT (Internet of Things) Akan efektif digunakan untuk membantu mencapai target tersebut. Biochar akan menjadi rumah-rumah mikroba tanah sehingga akan memperbaiki struktur fisika tanah dan juga mampu mensistesis berbagai bahan organik menjadi nutrisi atau pupuk bagi tanaman tersebut. Penggunaan biochar dengan kompos juga banyak digunakan untuk hasil pemupukan yang optimal. Selain itu biochar juga akan menahan sejumlah nutrisi tanaman atau pupuk tersebut dengan pori-porinya dari pencucian (leaching) sehingga pemupukan semakin efektif dan efisien. Biochar juga akan membantu menjaga kelembaban air dalam tanah dengan struktur pori-porinya dan juga memperkaya karbon (C) organik. 

Selanjutnya dengan IOT maka kondisi pertanian bunga mawar tersebut bisa dipantau secara cepat, tepat dan akurat. Ketersediaan nutrisi dan jenis nutrisi yang sesuai bagi pohon mawar, kelembaban udara, kebutuhan air dan lain sebagainya bisa dengan mudah dipantau dari jarak jauh. Aplikasi di smartphone, gadget maupun komputer PC bisa digunakan untuk mengukur dan memantau kondisi pertanian bunga mawar tersebut.  Semakin lengkap sensor-sensor yang digunakan maka akan semakin lengkap data yang disajikan sehingga analisis juga semakin baik untuk pengambilan keputusan. Penguasaan terhadap karakteristik budidaya bunga mawar akan memudahkan menganalisis berbagai data yang disajikan tersebut.

Penyulingan atau mengekstrak minyak mawar
Penyulingan (steam distillation) adalah cara mengekstrak minyak atsiri yang paling umum digunakan, tidak terkecuali untuk minyak bunga mawar. Sejarah panjang tentang penyulingan minyak atsiri telah membuktikan keberhasilan metode atau cara ini. Bunga mawar dari kebun dipetik selanjutnya dimasukkan ke tabung distilasi atau tabung penyulingan.  Kukus (steam) lalu masuk ke dalam tumpukan bunga tersebut dan selanjutnya dikondensasikan sehingga mencair. Ada 2 zat yang ditampung dalam tabung yakni minyak dan air. Keduanya bisa dipisahkan dengan mudah dengan dekanter. Alat mekanik untuk bongkar-muat bunga mawar dalam tabung penyulingan sangat membantu operasional penyulingan tersebut.   






Penggunaan air untuk kondensasi atau pengembunan juga diusahakan sehemat mungkin. Rancangan alat penukar panas (heat exchanger) yang efisien akan membuat penggunaan air pendingin semakin minimal. Setelah air digunakan untuk mengembunkan uap yang berisi campuran minyak dan air tersebut, maka suhunya akan meningkat. Untuk bisa digunakan lagi air tersebut didinginkan dalam menara pendingin (cooling tower) dan begitu seterusnya. Tungku juga harus dirancang efisien yang membuat konsumsi bahan bakar untuk penyulingan bisa diminimalisir. Isolasi panas pada berbagai bagian tungku dan tabung distilasi diperlukan untuk mencegah kehilangan panas yang membuat peningkatan penggunaan bahan bakar atau pemborosan. Dan akhirnya, minyak yang telah terpisah dari air selanjutnya disimpan, dikumpulkan dan siap dijual.    

Minggu, 07 Mei 2017

Pengomposan Kontinyu Untuk Proses Bersih Dan Efisien

Sampah kota
Saat kita melihat sampah menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap, maka kondisi tersebut membuat tidak nyaman. Padahal kondisi tersebut banyak kita jumpai di berbagai tempat. Semakin besar pemukiman atau banyak jumlah penduduk semakin banyak tumpukan sampah tersebut. Tentu ini menjadi masalah dan perlu segera dicarikan solusinya.

Mengomposkan sampah dalam jumlah besar sering menimbulkan banyak masalah, hal ini karena teknologi pengomposan yang digunakan masih belum efisien. Pengomposan yang bisa berlangsung cepat, mudah, murah, bersih dan efisien menjadi solusi masalah sampah tersebut. Tentu tidak semua jenis sampah bisa dikomposkan, hanya sampah organik saja yang bisa dibuat kompos. Padahal sampah yang berasal dari rumah tangga atau masyarakat sangat beragam dan bercampur menjadi satu. Hal tersebut menjadi masalah tersendiri sebelum mengolah sampah organik tersebut untuk menjadi kompos. Pemilahan (sorting) adalah hal yang dilakukan pertamakali sebelum pengomposan, yakni memisahkan bahan organik dan anorganik.
Tandan kosong kelapa sawit
Sumber-sumber yang homogen seperti taman, perkebunan dan peternakan akan lebih mudah mengolahnya daripada sumber sampah yang beragam (heterogen). Sampah-sampah dari sumber yang homogen tersebut bahkan tidak perlu dipilah (sorting) karena bahannya sudah homogen. Hanya pengecilan ukuran kadang-kadang  dibutuhkan untuk mempercepat proses pengomposan tersebut. Semakin kecil ukuran sampah organik tersebut maka semakin cepat pengomposannya.

Rotary Composter kecil
Rotary Composter besar
Rotary composter adalah alat yang mampu mengolah kompos dengan bersih dan efisien.  Bahan baku atau sampah organik bisa dimasukkan setiap harinya dan demikian juga kompos bisa dipanen setiap hari. Proses pengomposan dalam rotary composter juga bisa cepat, hal ini karena mencapai suhu optimum pengomposan dan pengadukan juga mudah dilakukan dengan alat ini. Hanya butuh waktu kurang lebih 2 minggu kompos telah berhasil dipanen. Air lindi dari pengomposan tersebut juga mudah ditampung, yang selanjutnya bisa digunakan sebagai pupuk cair organik.

Kebutuhan pupuk organik juga semakin besar karena pertanian dan perkebunan organik semakin banyak dilakukan. Kesadaran akan lingkungan dan kualitas pangan semakin mendorong pertanian dan perkebunan organik tersebut. Keberlanjutan (sustainibility) menjadi kata kunci untuk berbagai aktifitas terkait lingkungan saat ini tidak terkecuali untuk produksi (pertanian/perkebunan) maupun produk-produk yang dihasilkannya. Teknologi pengomposan secara kontinyu dengan rotary composter akan menjadi pilihan karena efisien, bersih, bisa untuk kapasitas besar dan mudah dalam operasionalnya.

Minggu, 30 April 2017

PAO untuk Produksi Bio-bunker oil

 
Penggunaan energi terbarukan telah merambah ke berbagai lini, meskipun porsinya belum besar, tidak terkecuali pada bahan bakar kapal. Penggunaan energi terbarukan ini dilatar belakangi oleh masalah lingkungan, perubahan iklim dan menipisnya cadangan bahan bakar fossil. Pada mesin diesel perkapalan dengan putaran rendah dan tidak terlalu sensitif terhadap kualitas bahan bakar, maka jenis minyak residu seperti minyak bakar digunakan sebagai bahan bakarnya. Kapal dengan mesin diesel putaran rendah biasa digunakan untuk kapal-kapal besar seperti general cargo, tanker, bulker dan kapal kontainer. Kapal-kapal tersebut pada umumnya memiliki berat mulai 2.000 dwt hingga 500.000 dwt dengan putaran mesin 60-120 rpm. Jenis mesin kapal tersebut cocok dengan bahan bakar minyak residu karena konsumsi bahan bakar yang tinggi dan menghabiskan biaya operasi dalam porsinya besar untuk biaya bahan bakar sehingga cenderung memilih bahan bakar yang paling murah.
Contoh bahan bakar minyak residue
Minyak bakar sendiri memiliki sifat lebih kental (viscous) dibanding minyak solar dan minyak diesel, yakni bisa mencapai 380 cSt(mm2/detik). Selain itu juga memiliki titik didih lebih tinggi dibanding kedua minyak tersebut. Minyak bakar ini merupakan fraksi dasar atau residue yang berwarna gelap dan cenderung berwarna hitam. Mesin diesel kecepatan rendah menggunakan minyak bakar tersebut atau jenis heavy fuel oil (HFO) dengan kekentalan atau viskositas hingga mencapai 700 cSt. Di pelabuhan-pelabuhan tertentu kemungkinan tidak terdapat bahan bakar dengan spesifikasi yang diharapkan oleh operator kapal maka bisa dipahami jika di atas kapal bahan bakar tersebut harus tetap dilakukan fuel pre-treatment. Sehingga para operator kapal dan pemasok bahan bakar dituntut untuk bekerja sama dengan baik agar bahan-bahan bakar tersebut dapat di treatment terlebih dahulu sebelum digunakan di dalam mesin agar performance mesin tetap optimal. Sebuah kapal besar bisa membutuhkan minyak bunker atau bahan bakar yang berupa minyak residu hingga mencapai 100 kiloliter atau mendekati 100 ton.
Penggunaan minyak nabati atau minyak tumbuh-tumbuhan mulai banyak digunakan untuk produksi minyak bunker. Hal ini sejalan dengan program penggunaan energi terbarukan yang mulai marak di berbagai sektor. Minyak nabati atau minyak tumbuh-tumbuhan tersebut juga termasuk kelompok residue atau sisa. PAO (Palm acid oil) atau istilahnya Miko (minyak kotor) dengan kadar FFA (Free Fatti Acid) lebih dari 50% bisa digunakan sebagai minyak bunker tersebut. Tingkat keasaman yang tinggi yang terindikasi dari tingginya prosentase FFA atau asam lemak bebas tersebut menyebabkan penggunaannya dalam minyak bunker tidak mencapai porsi besar. Blending atau pencampuran dengan minyak lain dilakukan untuk mencapai syarat atau spesifikasi teknis minyak bunker. PAO atau Miko tersebut adalah minyak limbah pabrik sawit atau pabrik CPO yang banyak terdapat dalam kolam-kolam buangan atau unit pengolah limbah mereka. Sebagai produsen CPO terbesar di dunia saat Indonesia memiliki ribuan pabrik sawit sehingga potensi atau jumlah PAO yang dihasilkan juga sangat besar. Walaupun semakin efisien pabrik sawit maka jumlah PAO atau minyak kotor yang dihasilkan menjadi lebih sedikit karena tingginya efisiensi recovery minyak dalam pabrik sawit tersebut.

Sebelum digunakan untuk minyak bunker, PAO atau Miko tersebut harus di treatment atau diolah terlebih dahulu. Pengolahan yang dilakukan dengan mendidihkannya dan menyaring PAO tersebut dengan tujuan mengurangi kadar air (moisture content) dan pengotor (impurities). Pengolahan PAO yang efisien juga akan mengurangi biaya produksi. Target kadar air (moisture content) dan pengotor (impurities) pada PAO yang sudah diolah (treated PAO) yakni biasa disyaratkan dibawah 2%. Pengiriman atau export PAO tersebut ke negara tujuan untuk kapasitas kecil biasa menggunakan flexytank yang diletakkan di dalam kontainer.

Minggu, 20 November 2016

Tips Membeli Plat dan Pipa Stainless Steel

Pada umumnya hanya sedikit saja plat dan pipa stainless yang tersedia di pasaran khususnya kota-kota di Indonesia. Apabila kita bandingkan dengan tabel di textbook misalnya maka biasanya kita akan kecewa dengan kondisi tersebut. Demikian juga ketika kita berbagai standarisasi yang digunakan dalam textbook, maka kondisi di pasaran pada umumnya hanya menggunakan satu atau dua macam standard saja. Sehingga kita harus bisa mencocokkan ataupun mencari pendekatan dengan plat ataupun pipa stainless yang kita butuhkan.  Perlu diperhatikan juga bahwa selain plat dan pipa stainless untuk industri juga ada plat dan pipa stainless untuk ornament atau dekorasi. Plat dan pipa stainless untuk industri biasanya warnanya buram (doff), sedangkan yang digunakan untuk ornamen atau dekorasi warnanya mengkilap/gillap (glossy).


Tabel-tabel diatas berasal dari Perry 8th Chemical Engineer's Handbook

Pipa stainless untuk industri pada biasanya juga tidak menyediakan banyak pilihan untuk ketebalan pipa (schedule), dan diameter pipa. Plat stainless untuk industri demikian juga, yakni hanya tersedia rata-rata untuk ketebalan kurang dari 10 mm (1 cm). Untuk itulah perlu menyesuaikan rancangan dengan kondisi pasar tersebut untuk memudahkan penyediaan bahan untuk pembuatan alat teknik atau mesin produksi nantinya. Survey kecil-kecilan ke sejumlah penyedia berbagai material teknis memang diperlukan untuk mengetahui ketersediaannya. Jangan sampai rancangan sudah jadi dan siap dibuat (fabrikasi) tetapi ternyata sebagian atau seluruh material teknis yang sesuai spesifikasi tidak tersedia dipasaran sehingg haru membeli dari luar daerah atau luar negeri. Hal itu selain akan memakan waktu cukup lama untuk penyediaannya (procurement) juga akan memakan biaya tinggi. Pengalaman kami di Yogyakarta untuk plat stainless untuk industri (doff) toko penyedia stainless terlengkap hanya menyediakan dua seri plat, yakni seri 201 dan 304 (foodgrade) seperti dibawah ini. Semakin tinggi kandungan alloy maka stainless steel tersebut memiliki ketahanan korosi yang tinggi tetapi harganya juga semakin mahal. Urutan ketahanan korosi dari seri stainless steel seperti tabel dibawah ini, yakni semakin ke kanan semakin tinggi ketahanan korosinya, yakni pada plat stainless seri 310.
 




Dari sisi pengerjaan atau fabrikasi pada umumnya material stainless steel lebih mahal daripada plat besi untuk ukuran ketebalan maupun diameter yang sama.  Hal ini terutama material stainless steel lebih ulet, kaku dan keras dibanding besi. Sedangkan keunggulan dari material stainless steel terutama karena tahan karat dan lebih tahan kondisi asam dibandingkan besi. 

Selasa, 04 Oktober 2016

Minyak Atsiri Komoditas Top Indonesia


Data statistik ekspor-impor dunia menunjukan bahwa konsumsi minyak atisiri dan turunannya naik sekitar 10% dari tahun ke tahun.Industri yang paling banyak menggunakan minyak atsiri adalah industri food flavoring, kosmetik  dan fragnace. Selebihnya ada industri farmasi, pengendalian hama dan serangga, dan lain-lain. Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara penghasil minyak atsiri dan masuk dalam 10 besar di dunia. Minyak atsiri yang dihasilkan di Indonesia berbagai macam, ada minyak pala, nilam, cengkeh, mawar, melati, gaharu, dan masih banyak yang lainnya.
Beberapa minyak atsiri andalan Indonesia :

1. Nilam (Patchouli)
Dalam perdagangan internasional nilam dkenal sebagai pathcouly. Minyak nilam digunakan sebagai fiksasif atau pengikat bahan-bahan pewangi lain dalam komposisi parfum dan kosmetik. Perkiraaan pemakaian dunia pada tahun 2006 sekitar 1500 ton / tahun dan Indonesia adalah produsen utama.

2. Akar Wangi (Vetiver)
Komponen yang menyusun minyak akar wangi yaitu: vetiveron,  vetiverol, vetivenil, vetivenal, asam palmitat, asam benzoat, dan vetivena. Banyak digunakan sebagai bahan baku kosmetik, parfum, dan bahan pewangi sabun. Minyak akar wangi mempunyai bau yang menyenangkan, keras, tahan lama, dan disamping itu juga berfungsi sebagai pengikat bau (fixative). Perkiraan permintaan dunia lebih dari 200 ton / tahun dan  Indonesia merupakan pemain penting.

3. Sereh Wangi (Citronella)
Komponen terpenting dalam minyak sereh wangi adalah sitronellal dan geraniol. Kedua komponen tersebut menentukan intensitas bau, harum, serta nilai harga minyak atsiri, sehingga kadarnya harus memenuhi syarat ekspor agar dapat diterima. Minyak ini digunakan dalam industri, terutama sebagai pewangi sabun, sprays, desinfektans, pestisida nabati, bahan pengilap, peningkat oktan BBM dan aneka ragam preparasi teknis. Perkiraan pemakaian dunia pada tahun 2007 lebih dari 2000 ton / tahun dan Indonesia adalah 3 besar  dunia produsen minyak sereh wangi.  Italia adalah salah satu negara yang mengambil secara rutin produk minyak sereh wangi dari Indonesia.

4. Cengkeh (Clove)
Produksi minyak cengkeh Indonesia pada tahun 2007 sekitar 2.500 ton dengan perkiraan pemakaian dunia sekitar 3.500 ton / tahun (Mulyadi, 2008). Walaupun demikian volume ekspor minyak cengkeh sangat kecil, karena sebagian besar minyak cengkeh sudah diolah menjadi produk turunannya sehingga yang diekspor lebih banyak pada produk turunannya, seperti eugenol, eugenol asetat, dll.


5. Pala (Nutmeg)
Minyak pala juga terutama digunakan dalam industri parfum dan pasta gigi. Indonesia memegang peranan penting dalam pasar dunia karena sebagian besar kebutuhan pala dunia berasal dari Indonesia. Lebih dari 60% kebutuhan pala dunia berasal dari Indonesia dengan volume ekspor lebih dari 200 ton/tahun.

6. Jahe (Ginger)
Komponen utama dalam minyak jahe adalah zingiberen, dan zingberol yang menyebabkan bau khas minyak jahe. Minyak jahe digunakan sebagai bahan baku minuman ringan (ginger ale), dalam industri penyedap, farmasi dan wangi-wangian. Indonesia masih sebagai produsen jahe ketiga terbesar dunia di pasar global, padahal secara iklim dan kesesuaian lahan Indonesia sangat potensia, sehingga potensinya dapat ditingkatkan.

7. Kenanga (Cananaga)
Dalam industri, minyak kenanga biasa digunakan sebagai bahan pewangi sabun. Minyak kenanga hanya diproduksi di Indonesia dengan output sebesar 20 ton/tahun.

8. Cendana (Sandalwood)
Komponen utama dalam minyak cendana adalah santanol. Perkiraan permintaan dunia lebih dari 50 ton/tahun. Indonesia pernah menduduki peringkat ke-2 dunia produsen minyak cendana. Sandalwood oilmemegang peranan penting dalam industri wewangian. Selain dapat digunakan untuk minyak wangi sendiri, dapat pula untuk pengikat minyak wangi mahal (Violet, Cassie, Rose, Reseda, dan Ambete).

9. Masoi
Minyak masoi dihasilkan dari proses penyulingan kulit kayu masoi, mempunyai  bau wangi (sweetish oil) dan terasa pedas jika terkena kulit. Minyak ini mengandung sekitar 80% eugenol, dan 6% terpene dan safrole. Minyak ini merupakan sumber natural laktone. Kandungan safrole dalam minyak masoi dibutuhkan dalam industri kimia, untuk pembuat heliotropin, bahan baku celluloide (film), kosmetik dan wewangian. Minyak masoi diproduksi di Indonesia dengan output lebih dari 5 ton per tahun.

10. Kayu Manis (Cinamon / Cassia)
Minyak kayu manis yang diperoleh dariCinnamomum zeylanicum Ness disebut minyak Cinnamon,sementara yang berasal dari Cinnamomum cassia disebut minyakCassia.Minyak kayu manis dipergunakan sebagai flavouring agentdalam pembuatan parfum, kosmetik, dan sabun.

11. Melati (Jasmine)
Minyak bunga melati umumnya dipergunakan sebaga zat pewangi parfum kelas tinggi. Minyak ini biasanya diekspor ke Singapura, Australia, Eropa, Timur Tengah, India, China, dan Thailand.

Selasa, 09 Agustus 2016

Simulasi Produksi dan Pemurnian Biogas dari Limbah Cair Pabrik Sawit

Pendidikan dan pelatihan yang memadai akan membuat para operator maupun engineer di pabrik memiliki pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan yang memadai untuk menjalankan pabrik tersebut. Demikian juga pada pabrik biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit atau pome (palm oil mill effluent). Pabrik biogas di pabrik kelapa sawit memiliki kapasitas yang cukup besar, yakni sebanding dengan kapasitas pabrik sawit itu sendiri. Pabrik sawit dengan kapasitas pengolahan TBS  30 ton/jam setara kurang lebih 1 MW pembangkit listrik biogas, kapasitas pengolahan TBS 45 ton/jam setara 1,5 MW dan kapasitas pengolahan TBS 60 ton/jam setara 2 MW. Investasi atau biaya untuk pembangunan pabrik biogas tersebut juga cukup besar sehingga keberlangsungan operasional sesuai target pembangunannya merupakan hal yang cukup penting.  Saat ini ada lebih dari 600 pabrik sawit di Indonesia dan 400 pabrik sawit di Malaysia, sehingga potensi pabrik-pabrik biogas yang akan dibangun juga banyak.


Pada pabrik biogas pada umumnya ada dua tahapan proses sebelum produk biogas (biomethane) tersebut bisa dimanfaatkan, yakni unit produksi biogas dari pome dan unit pemurnian biogas untuk mencapai kadar metana tinggi (>95%).  Pada produksi biogas dari pome, kontak antara pome (substrate) dengan mikroba pengurai (inoculum) sehingga menjadi campuran yang homogen adalah hal penting untuk mendapatkan kuantitas atau yield biogas yang besar. Reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) atau reaktor kontak atau CSTR (continous stirred tank reactor) adalah sarana yang efektif untuk mendapatkan kontak bahan-bahan tersebut. Kontak yang bagus atau pencampuran (mixing) yang merata antara substrate dan mikroba tersebut telah terbukti meningkatkan yield atau kuantitas biogas yang dihasilkan artinya proses fermentasi yang terjadi lebih sempurna. CSTR atau RATB adalah juga bentuk  paling  umum  untuk  pengolahan  dengan  kandungan  padatan  rendah  dan   dirancang  pada  umumnya untuk  menangani  limbah  organik  dengan  kandungan  padatan  (TS=Total  Solid)  2-10%. RATB atau CSTR atau reaktor  kontak  dirancang untuk mengakomodasi waktu proses  yang  lama, pengadukan  mekanis dan  metode untuk  memanaskan atau  mendinginkan suatu reaksi.


Pemisahan satu atau lebih komponen dari campuran gas dengan absorbsi berbasis pada transfer massa yang dikontrol terutama oleh laju difusi adalah salah satu teknologi yang banyak digunakan pada pemurnian biogas.   Aseton dapat direcovery dari campuran aseton-udara dengan melewatkan aliran gas ke dalam air sehingga aseton terlarut dan udara mengalir keluar. Hal yang sama juga terjadi pada amonia ketika dipisahkan dari campuran amonia-udara dengan absorbsi di air. Pada pemurnian biogas dengan absorbsi air (water absorber/water scrubber) gas CO2 dan H2S terlarut dalam air. Contoh-contoh diatas adalah proses absorbsi gas ke cairan sebagai proses fisika, reaksi kimia tidak terjadi. Ketika nitrogen oksida mengalami absorbsi di air menjadi asam nitrat atau karbondioksida mengalami absorbsi pada larutan sodiumhidroksida maka terjadilah reaksi kimia. Pemurnian biogas menggunakan larutan amina seperti mono-ethanolamin (MEA) atau di-ethanolamin (DEA) ataupun metil di-ethanolamin (MDEA) serta senyawa alkali seperti sodium, potassium dan kalsium hidroksida maka akan terjadi reaksi kimia. MEA dan DEA banyak digunakan karena kondisi proses yang dapat dilakukan pada suhu lingkungan dan tekanan 1 bar, namun untuk proses regenerasi larutan absorbsi (absorben) membutuhkan panas berkisar 90-120 C. Proses absorbsi baik yang hanya melibatkan proses fisika maupun melibatkan reaksi kimia hampir semua dilakukan pada menara atau kolom bahan isian (packed column). Mengetahui dan memahami seluk beluk teknologi kolom bahan isian adalah hal penting pada unit pemurnian biogas.


Simulasi pencampuran (mixing) untuk mendukung proses produksi biogas dari pome dan hidrodinamika kolom bahan isian  untuk unit pemurnian biogas-nya sangat disarankan bagi para operator maupun engineer pabrik biogas tersebut. Pabrik kelapa sawit khususnya yang memiliki pabrik biogas tersebut sebaiknya menyediakan sarana tersebut. Bagi yang ingin mendapatkan brosurnya silahkan mengirim email ke: cakbentra@gmail.com